Do’anya Kudengar di Arsy
Jumat, 12 Juli 2013
Add Comment
Mempunyai keturunan yang shaleh
menjadi dambaan setiap orang tua. Apa pun metode yang mendukung akhlak yang
lebih baik pasti akan dikejarnya. Inilah rintihan dari seorang ibu, Khadijah,
biasa dipanggil mak Ijah.
Tiap ba’da shalat, lantunan do’a
menjadi cemilan pribadi yang dikhususkan untuk anak-anaknya. Do’a agar
mempunyai dzurriyah yang selalu menanamkan aturan agama pada pribadinya. Namun,
Allah lah yang Maha Berkehendak. Dari 11 anak hasil pernikahan dengan Abdul
Karim, ternyata belum semua yang bisa memenuhi apa yang ia azamkan. “Adakah
dari keturunanku menjadi seorang ulama?” batinnya sering bertanya.
Semua anaknya memang pernah
mengenyam pendidikan pesantren. Tapi tak semua yang ia harapkan. Mereka lebih
memilih menjadi pengusaha, pembimbing travel haji, ketimbang jadi Kyai.
Kebanyakan dari mereka memang sukses, tapi kesuksesannya belum cukup mengobati
impian sang ibu agar anaknya menjadi pewaris para nabi.
Namun ada secercah harapan bagi Mak
Ijah. Ketika di suatu malam, ia pernah bermimpi. Melihat putra bungsunya,
Muhammad Nawawi menjadi imam shalat. Tampak dengan jelas Mak Ijah dan ratusan
masyarakat Kampung Hegarmanah ada dibelakang Nawawi sebagai makmum.
“Apakah ini tanda do’aku diijabah?”
batinnya mencari jawaban.
Muhammad Nawawi, sebuah nama
pemberian kakeknya, Abdul Ghani, tokoh masyarakat yang disegani di Kampung
Hegarmanah. Kyai kampung yang mukhlis, menjadi teladan bagi keluarga juga
kampungnya. Tak beralasan menamakan putra bungsu Khadijah dan Abdul Karim ini.
Yang ia tahu, Imam Nawawi adalah ulama ahli ilmu fiqih dari Banten yang wafat
di Makkah. Menjadi rujukan para ulama sezamannya. Sebagai tafaul ngalap
berkah, semoga kelak Nawawi kecil bisa menjadi seorang yang ahli dalam
dalam bidang fiqih seprti Syaikh Nawawi Al Bantani. Itulah sebab kakeknya
menamakan Muhammad Nawawi.
Nawawi masih berumur tiga belas
tahun, duduk di madrasah kelas satu MTs
An-Nur sambil pesantren di tempat yang sama, di bawah asuhan KH. Ghazali
Mabruk.
Otak yang cekatan juga ada darah
dari seorang kyai, tak aneh bila Nawawi dijuluki Fathul Qarib berjalan,
sebuah kitab ilmu fiqih yang telah dihafalnya dengan waktu yang relatif
singkat, dua bulan. Lalu kitab Alfiyah Ibn Malik yang ia talar kurang dari
sebulan.
***
Kini Nawawi kecil itu sudah tumbuh
menjadi remaja tampan. Tidak putih namun manis, lesung pipinya menjadi daya
tarik bila orang melihatnya. Perangainya bersahaya namun berwibawa. Sengaja ia
membiarkan jenggotnya tumbuh demi sunah nabi.
Dua belas tahun rasanya cukup untuk
meneguk ilmu dari beberapa ulama di Pulau Jawa dan Madura. Sanad ilmu yang
sampai kepada Baginda Rasul SAW telah ia terima dengan pengijazahan yang resmi
dari beberapa gurunya, wa bil khusus dari Kyai Muhyiddin, yang masih keturunan
Syaikh Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya.
Selepas di Madrasah Tsanawiah,
sengaja ia memilih jalur fokus pada pesantren, tanpa ikut sama orang lain yang
sekolah formal. Maka, dari pesantren satu ke pesantren lain ia singgahi.
Sekarang ia berniat untuk bermukim
saja, seraya mencari untuk pasangan hidup. Namun niatnya ditahan oleh Kyai
Muhyiddin.
“Sebelum kamu bermukim, hendaknya
kamu menjalani tirakat ini!” titah Kyai sambil menjelaskan apa saja yang harus
dikerjakannya.
Puasa mutih, puasa tanpa makan yang
berminyak atau bernyawa selama empat puluh hari. Malam harinya harus terjaga,
dengan mengamalkan beberapa aurad, hijib, ratib dan lainnya. Meskipun agak
berat, ia lakoni dengan ikhlas.
Di malam terakhir, antar terjaga
dan tidak. Ketika manisnya dzikir ia kecap, Nawawi seakan sedang berada di awang-awang. Ia tak sendiri, ada puluhan yang berpakaian
putih seperti dirinya yang masing-masing di damping oleh dua cahaya. Ia melihat
bumi sangat kecil sekali, seperti kelereng yang sering ia mainkan sewaktu kecil.
Lalu ia menatap lukisan kaligrafi indah yang belum ia lihat sebelumnya, lafadz
bertuliskan “Arsy”. Nawawi mencoba menyembunyikan rasa kepenasarannya. Tak
lepas ia bertasbih.
Nawawi dikumpulkan bersama yang
lain di sebuah lapangan tanpa batas. Masing-masing diberi layar seperti layar
tancap. Dilihatnya di layar itu kehidupan Nawawi sewaktu kecil, mulai dari ia
dilahirkan, sampai sebab kematian kakeknya. Perjalanan kakak-kakaknya yang
telah sukses. Terakhir ia melihat wanita separuh baya, sedang merintih dalam
munajatnya. Tak salah lagi, ia adalah emaknya.
“Ya Allah Yang Maha Pemurah
Ya Allah Ya Sami’u Du’a
Yang tak pernah menolak
permohonan hamba-hamba
Yang tak pernah ingkar pada
janji-Nya
Perkenankanlah keturunanku
menjadi pewaris Nabi-Mu
Jadikanlah Nawawiku menjadi
pejuang agama
Penerus salafaus salih…”
Nawawi seakan tak percaya dengan
apa yang disaksikannya. Tampak wajah berkeriput, yang pipinya mengalir mutiara
bening, sedang mendo’akannya. Nawawi hanya bisa mengamini do’a emaknya di bumi.
Keringat panas dingin keluar
setelah ia benar-benar sadar dari apa yang telah ia alami. Ketika hendak
menceritakan kejadian malam kepada gurunya, Kyai Muhyiddin hanya mengangguk.
“Jangan kau ceritakan pada orang
lain! Kini aku ikhlaskan kamu untuk bermukim.” Perintah Kyai sebagai tanda
Nawawi telah menyelesaikan hasil tirakatnya.
Di rumah, Mak Ijah sengaja
memberitahu anak-anaknya dan mengundang tetangga untuk menyambut Nawawi. Dengan
menyelenggarakan syukuran yang istimewa. Mak Ijah tersenyum bangga, inilah
keturuanku yang kuimpikan.
Garut, 27 Juli 2012
22.50 WIBSumber Gambar: DI SINI

0 Response to "Do’anya Kudengar di Arsy"
Posting Komentar