Hanya Satu Do’a untuk Malam Ini

BUKAN kebencian, lebih pada apa yang kusebut iri. Melihat satu demi satu karib yang telah mendua, selanjutnya beranak pinak. Kapan aku bisa menggandeng bidadari seperti Bang Iyus, lelaki yang kuirikan. Dengan bangganya ia gandeng perempuan berhijab. Aku yakin pilihannya keluaran pesantren, paling tidak ia begitu lekat memaknai agama.

“Ya Allah… Kapan kutemukan ia?”
***

Di Gua Guntur, aku lihat ia dijaga dua prajurit Prabu Siliwangi.
Ia meronta. Melihat kedatanganku, kupastikan wajahnya pucat walau ada segores kegembiraan. Ia memelas seakan ingin lepas dari kungkungan terali itu.

“Tolong bawa aku dari sini!” dari kejauhan kulihat bibirnya berucap berkali-kali.

“Maaf. Prabu tak mengijinkan engkau mendatanginya. Syaratmu belum cukup!” prajurit berloreng macan itu menghadang dengan tombak tepat di dadaku.

“Apa syarat yang belum kupenuhi?” kataku.

“Tanya pada dirimu!” prajurit satunya menimpali, seraya mendaratkan tombaknya tepat di  kepalaku. Aku limbung. Pingsan.

Sedetik kemudian aku tersadar. Untung. Ini hanya mimpi.

“Ya Allah… Kapan kutemukan ia?”

Garut, 11 Nopember 2012
20.31 WIB
===================================================================

Cerita Cinta di atas pindahan dari tulisan saya di Kompasiana
Gambar diambil dari SINI

0 Response to "Hanya Satu Do’a untuk Malam Ini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel